UMS Dorong Mitigasi Bencana Lewat Edukasi Komunitas
medianews.web.id Isu kebencanaan menjadi salah satu tantangan serius di Indonesia. Letak geografis yang rawan gempa, banjir, dan bencana alam lainnya menuntut kesiapan semua pihak. Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi dan penggerak kesadaran publik. Universitas Muhammadiyah Surakarta mengambil peran tersebut dengan menyelenggarakan webinar bertema mitigasi bencana.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang pentingnya edukasi lingkungan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengurangan risiko bencana. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai lembaga akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial.
Webinar sebagai Sarana Edukasi Publik
Webinar bertajuk “Edukasi Lingkungan sebagai Upaya Mitigasi Bencana” menghadirkan ruang diskusi yang terbuka dan inklusif. Melalui platform daring, peserta dari berbagai latar belakang dapat mengikuti pemaparan materi dan berdiskusi langsung dengan narasumber.
Format webinar dipilih agar jangkauan edukasi lebih luas. Dengan pendekatan ini, informasi kebencanaan dapat diakses oleh masyarakat umum, mahasiswa, dan relawan tanpa terbatas lokasi.
Narasumber Berpengalaman di Bidang Kebencanaan
Webinar ini menghadirkan Budi Setiawan, Ketua Lembaga Resiliensi Bencana Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang dikenal luas sebagai Muhammadiyah Disaster Management Center.
Sebagai praktisi kebencanaan, Budi Setiawan menyampaikan berbagai pengalaman lapangan dalam penanganan bencana. Ia menekankan bahwa mitigasi tidak hanya soal respons saat bencana terjadi, tetapi juga persiapan jauh sebelumnya melalui edukasi dan kesadaran lingkungan.
Sambutan dan Penegasan Peran Akademisi
Webinar diawali dengan sambutan dari Wakil Rektor III UMS, Mutohharun Jinan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai bagian dari upaya pencerdasan masyarakat terkait mitigasi bencana.
Ia menegaskan bahwa kampus memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat aktif dalam isu kebencanaan. Pengetahuan yang dimiliki akademisi harus mampu ditransformasikan menjadi pemahaman praktis yang bisa diterapkan di masyarakat.
Edukasi Lingkungan sebagai Fondasi Mitigasi
Dalam pemaparannya, narasumber menekankan pentingnya edukasi lingkungan sebagai fondasi mitigasi bencana. Kerusakan lingkungan sering kali memperparah dampak bencana. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan alam menjadi langkah preventif yang sangat penting.
Edukasi lingkungan tidak hanya berbicara soal teori, tetapi juga perubahan perilaku. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan sekitar, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga daerah resapan air, berperan besar dalam mengurangi risiko bencana.
Ketahanan Komunitas sebagai Tujuan Utama
Salah satu fokus utama webinar adalah membangun ketahanan komunitas. Ketahanan komunitas berarti kemampuan masyarakat untuk bertahan, beradaptasi, dan pulih ketika menghadapi bencana. Konsep ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama, bukan sekadar korban.
Melalui edukasi yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan mampu mengenali potensi risiko di lingkungannya sendiri. Dengan demikian, langkah mitigasi dapat dilakukan secara mandiri dan terorganisir.
Peran Organisasi Sosial dan Relawan
MDMC sebagai lembaga kebencanaan Muhammadiyah memiliki pengalaman panjang dalam pendampingan masyarakat terdampak bencana. Pengalaman tersebut menjadi bahan pembelajaran penting dalam webinar ini.
Kolaborasi antara kampus, organisasi sosial, dan relawan dinilai sangat penting. Ketiganya memiliki peran saling melengkapi, mulai dari penguatan pengetahuan, aksi lapangan, hingga pendampingan pascabencana.
Mitigasi sebagai Budaya, Bukan Reaksi Sesaat
Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah perlunya menjadikan mitigasi bencana sebagai budaya. Selama ini, perhatian terhadap kebencanaan sering muncul hanya setelah bencana terjadi. Padahal, kesiapsiagaan harus dibangun jauh sebelum itu.
Webinar ini mendorong perubahan paradigma tersebut. Mitigasi tidak boleh dipandang sebagai kegiatan insidental, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Mahasiswa sebagai Agen Perubahan
UMS juga menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan dalam isu kebencanaan. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi penghubung antara pengetahuan akademik dan praktik di lapangan.
Dengan bekal edukasi yang tepat, mahasiswa dapat berperan aktif dalam kegiatan sosialisasi, edukasi lingkungan, hingga relawan kebencanaan di masyarakat.
Dampak Jangka Panjang Edukasi Kebencanaan
Edukasi kebencanaan yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak jangka panjang. Masyarakat yang teredukasi cenderung lebih siap menghadapi bencana dan mampu meminimalkan kerugian.
Selain itu, edukasi ini juga membangun solidaritas sosial. Dalam situasi darurat, masyarakat yang memiliki kesadaran kolektif akan lebih mudah bekerja sama dan saling membantu.
Komitmen Berkelanjutan UMS
Melalui webinar ini, UMS menegaskan komitmennya untuk terus terlibat dalam upaya mitigasi bencana. Kegiatan serupa direncanakan menjadi bagian dari agenda edukasi berkelanjutan kampus.
UMS berharap kolaborasi antara akademisi, organisasi kebencanaan, dan masyarakat dapat terus diperkuat. Dengan demikian, ketahanan komunitas dapat dibangun secara sistematis dan berkelanjutan.
Penutup: Edukasi sebagai Kunci Ketahanan
Webinar mitigasi bencana yang digelar UMS menunjukkan bahwa edukasi adalah kunci utama membangun ketahanan komunitas. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat tidak hanya mampu merespons bencana, tetapi juga mencegah dan mengurangi dampaknya.
Melalui peran aktif kampus dan dukungan berbagai pihak, upaya mitigasi bencana diharapkan tidak berhenti pada wacana, tetapi menjadi gerakan nyata yang melindungi kehidupan dan lingkungan secara berkelanjutan.

Cek Juga Artikel Dari Platform indosiar.site
