Diperiksa Kejagung, Sudirman Said Ungkap Mafia Migas
medianews.web.id Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said kembali menjadi sorotan publik setelah memenuhi panggilan Kejaksaan Agung. Kehadirannya bertujuan memberikan keterangan terkait berbagai tugas yang pernah ia jalani di sektor energi nasional, baik saat berada di lingkungan PT Pertamina maupun ketika mengemban amanah sebagai Menteri ESDM.
Pemeriksaan tersebut menjadi kali kedua Sudirman dimintai keterangan oleh aparat penegak hukum. Dalam proses itu, ia diminta menjelaskan pengalaman, kebijakan, serta dinamika yang dihadapinya selama menjalankan tanggung jawab di sektor strategis yang selama ini dikenal rawan kepentingan.
Keterangan Terkait Dua Periode Jabatan
Dalam pemeriksaan, Sudirman memberikan penjelasan mengenai dua fase penting dalam perjalanan kariernya. Fase pertama terjadi saat ia menjabat sebagai Senior Vice President Integrated Supply Chain di Pertamina. Pada periode tersebut, ia terlibat langsung dalam pengelolaan rantai pasok energi nasional.
Fase berikutnya berlangsung ketika ia dipercaya menjadi Menteri ESDM. Pada posisi ini, ruang lingkup tanggung jawabnya semakin luas, mencakup kebijakan nasional, pengawasan industri migas, hingga pembenahan tata kelola energi.
Mandat Negara untuk Pembenahan Sektor Energi
Sudirman menyampaikan bahwa dalam kedua jabatan tersebut, dirinya memperoleh mandat langsung dari negara untuk melakukan perbaikan menyeluruh. Fokus utama mandat itu adalah membenahi rantai pasok dan tata kelola sektor migas yang selama bertahun-tahun dinilai bermasalah.
Publik selama ini mengenal sektor migas sebagai salah satu bidang yang sarat praktik tidak transparan. Mulai dari impor, distribusi, hingga perizinan kerap disebut sebagai titik rawan permainan kepentingan.
Tantangan Menghadapi Struktur yang Mengakar
Dalam keterangannya, Sudirman mengungkap bahwa hambatan terbesar bukan hanya soal teknis kebijakan. Tantangan justru datang dari sistem yang sudah lama terbentuk dan sulit diubah.
Menurutnya, praktik-praktik lama telah mengakar kuat sehingga setiap upaya pembenahan kerap menghadapi resistensi. Tidak sedikit pihak yang merasa terusik ketika tata kelola mulai diperbaiki.
Mafia Migas sebagai Masalah Sistemik
Ia menggambarkan mafia migas bukan sebagai individu tunggal, melainkan jaringan dengan kepentingan berlapis. Jaringan ini bekerja melalui celah regulasi, lemahnya pengawasan, serta kebiasaan birokrasi yang tidak transparan.
Kondisi tersebut membuat upaya pemberantasan tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan perubahan sistem, keberanian politik, serta konsistensi kebijakan agar hasilnya berkelanjutan.
Tekanan dalam Pengambilan Kebijakan
Saat menjabat sebagai Menteri ESDM, Sudirman mengakui bahwa setiap kebijakan strategis selalu diiringi tekanan. Tekanan itu datang dari berbagai arah, baik internal maupun eksternal.
Kebijakan yang menyentuh kepentingan besar kerap memunculkan reaksi keras. Situasi ini menuntut keteguhan sikap agar arah reformasi tidak bergeser.
Reformasi Tata Kelola Migas
Salah satu fokus utama yang ia dorong adalah transparansi dalam pengelolaan energi. Mulai dari perizinan, pengadaan, hingga distribusi harus berada dalam sistem yang bisa diawasi publik.
Menurutnya, tanpa transparansi, praktik penyimpangan akan terus berulang meskipun aktor yang terlibat berganti.
Pengalaman di Pertamina Jadi Bekal Penting
Pengalaman di Pertamina memberikan pemahaman teknis yang kuat bagi Sudirman. Ia melihat langsung bagaimana rantai pasok bekerja dan di mana celah yang rawan disalahgunakan.
Pengetahuan tersebut kemudian menjadi bekal saat ia berada di level kebijakan nasional. Dengan memahami hulu hingga hilir, ia dapat melihat persoalan secara lebih utuh.
Hubungan antara Kebijakan dan Implementasi
Dalam pemeriksaan di Kejagung, Sudirman menjelaskan bahwa persoalan migas tidak hanya berhenti pada regulasi. Banyak kebijakan yang secara konsep baik, tetapi bermasalah dalam implementasi.
Kesenjangan antara aturan dan pelaksanaan inilah yang sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperoleh keuntungan.
Pentingnya Penegakan Hukum
Ia menilai peran aparat penegak hukum sangat penting dalam menciptakan efek jera. Tanpa penegakan hukum yang tegas, reformasi tata kelola akan selalu menghadapi hambatan.
Kolaborasi antara regulator, pengawas, dan aparat hukum menjadi kunci agar sektor energi dapat dikelola secara bersih.
Pemeriksaan sebagai Bagian Proses Negara
Sudirman menegaskan bahwa kehadirannya di Kejaksaan Agung merupakan bentuk tanggung jawab sebagai warga negara. Ia menyatakan siap memberikan seluruh informasi yang dibutuhkan demi kepentingan hukum.
Baginya, proses pemeriksaan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian dari upaya negara memahami persoalan secara komprehensif.
Transparansi Jadi Prinsip Utama
Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan dalam menangani kasus-kasus strategis. Transparansi dinilai mampu menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Ketika proses berjalan terbuka, masyarakat dapat melihat bahwa hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
Harapan terhadap Pembenahan Energi Nasional
Melalui pemeriksaan ini, Sudirman berharap persoalan lama sektor migas dapat diurai secara objektif. Evaluasi menyeluruh dinilai perlu agar kesalahan masa lalu tidak terus terulang.
Ia percaya bahwa pembenahan energi bukan sekadar isu ekonomi, tetapi juga menyangkut kedaulatan negara.
Migas dan Kepentingan Nasional
Sektor energi memiliki posisi vital dalam pembangunan nasional. Ketergantungan terhadap impor, ketidakefisienan, serta kebocoran anggaran berdampak langsung pada keuangan negara.
Karena itu, setiap upaya memperbaiki tata kelola migas sejatinya adalah upaya menjaga kepentingan rakyat.
Jalan Panjang Reformasi Energi
Sudirman menyadari bahwa reformasi tidak bisa diselesaikan dalam satu periode kepemimpinan. Perubahan membutuhkan kesinambungan kebijakan dan keberanian lintas pemerintahan.
Tanpa konsistensi, upaya yang telah dilakukan berisiko kembali ke pola lama.
Pemeriksaan Jadi Momentum Evaluasi
Pemeriksaan yang dilakukan Kejaksaan Agung dinilai dapat menjadi momentum evaluasi besar. Tidak hanya terhadap individu, tetapi juga terhadap sistem yang berjalan selama ini.
Jika dimanfaatkan dengan baik, proses hukum dapat membantu membenahi sektor energi secara menyeluruh.
Komitmen terhadap Kepentingan Publik
Di akhir keterangannya, Sudirman menegaskan bahwa apa yang ia lakukan selama menjabat semata-mata untuk kepentingan negara. Meski penuh tantangan, ia mengaku tetap berpegang pada prinsip integritas.
Kasus ini kembali membuka diskusi publik mengenai pentingnya reformasi migas yang berkelanjutan. Upaya membongkar praktik lama memang tidak mudah, namun menjadi langkah penting demi menciptakan sektor energi yang bersih, transparan, dan berpihak pada kepentingan nasional.

Cek Juga Artikel Dari Platform lagupopuler.web.id
