Mendagri Ajari Bupati Aceh Utara Soal Data Bantuan Banjir
Kunjungan kerja Tito Karnavian ke wilayah terdampak banjir di Aceh Utara meninggalkan momen yang menyita perhatian publik. Di tengah agenda peninjauan dampak bencana, Mendagri tampak menunjukkan ekspresi serius saat mendengar langsung keluhan seorang warga yang belum menerima bantuan meski rumahnya tersapu banjir.
Peristiwa tersebut terjadi di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, ketika Tito berdialog dengan warga terdampak. Seorang ibu tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan bahwa hingga kini ia belum mendapatkan bantuan apa pun. Dengan suara bergetar, ia mengaku rumahnya rusak parah akibat terjangan banjir, sementara kebutuhan hidup semakin mendesak.
Melihat kondisi tersebut, wajah Tito tampak berkerut. Ia langsung merespons dengan memanggil Ismail A Jalil, Bupati Aceh Utara, yang mendampinginya dalam kunjungan tersebut. Di hadapan warga, Tito secara terbuka mengingatkan pentingnya pendataan yang rapi dan lengkap agar bantuan dari pemerintah pusat dapat segera disalurkan.
Teguran dan Arahan Langsung dari Mendagri
Dalam kesempatan itu, Tito menjelaskan bahwa kunci utama lambatnya pencairan bantuan bukan terletak pada ketersediaan dana, melainkan pada kelengkapan data dari pemerintah daerah. Ia meminta Bupati Aceh Utara segera menyusun daftar warga terdampak berdasarkan laporan para keuchik atau kepala desa.
“Pak Bupati, buat saja daftar namanya berdasarkan data dari keuchik-keuchik ini. Mana yang rumahnya rusak ringan, rusak sedang, atau rusak berat,” ujar Tito dengan nada tegas.
Ismail A Jalil terlihat mengangguk sambil mencatat arahan tersebut. Tito menekankan bahwa pendataan by name by address merupakan syarat mutlak agar bantuan bisa segera dicairkan oleh pemerintah pusat melalui BNPB.
Dana Ada, Data yang Belum Lengkap
Mendagri menegaskan bahwa pemerintah pusat sejatinya telah menyiapkan anggaran untuk membantu warga terdampak banjir di Aceh Utara. Namun, tanpa data yang jelas dan terverifikasi dari daerah, dana tersebut tidak bisa disalurkan.
“Uangnya sudah ada, tapi mau diberikan ke siapa kalau tidak ada daftar namanya? Begitu daftar masuk, BNPB bisa langsung mencairkan,” tegas Tito di hadapan Bupati dan warga.
Menurut Tito, inilah titik kebuntuan yang kerap terjadi dalam penanganan pascabencana di berbagai daerah. Pemerintah pusat siap membantu, tetapi keterlambatan atau ketidaklengkapan data dari pemerintah daerah membuat proses menjadi tersendat.
Skema Bantuan Renovasi Rumah Warga
Dalam dialog tersebut, Tito juga memaparkan skema bantuan yang telah disiapkan pemerintah untuk warga terdampak banjir. Bantuan ini difokuskan pada renovasi rumah sesuai tingkat kerusakan.
- Rumah rusak ringan: bantuan renovasi sebesar Rp15 juta
- Rumah rusak sedang: bantuan renovasi sebesar Rp30 juta
Sementara itu, bagi warga dengan rumah rusak berat atau hilang terseret arus, pemerintah menyiapkan hunian sementara (huntara). Selain itu, tersedia opsi bantuan biaya bagi warga yang memilih tinggal sementara di rumah keluarga atau kerabat.
Setelah fase darurat terlewati, pemerintah juga berencana membangun hunian tetap bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Potensi Penambahan Nilai Bantuan
Menariknya, Tito menyebut bahwa nominal bantuan renovasi rumah masih berpotensi ditingkatkan. Ia menyampaikan kemungkinan bantuan menjadi Rp30 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp60 juta untuk rumah rusak sedang, tergantung hasil evaluasi dan laporan lapangan.
“Ini nanti kita lapor ke Presiden,” kata Tito, merujuk pada Prabowo Subianto, yang direncanakan akan berkunjung langsung ke Aceh Utara.
Namun Tito kembali menekankan, syarat utama agar usulan tersebut dapat diproses adalah laporan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan dari para keuchik di tingkat desa.
“Keuchiknya harus tanggung jawab. Datanya harus benar,” ujarnya.
Gambaran Besar Dampak Banjir Aceh Utara
Sebelumnya, Bupati Ismail A Jalil telah melaporkan skala dampak banjir yang melanda Aceh Utara dalam forum nasional. Data tersebut menunjukkan bahwa bencana ini berdampak sangat luas dan serius terhadap permukiman warga.
Menurut laporan Ismail:
- Rumah terendam: 72.364 unit
- Rumah hilang: 3.506 unit
- Rumah rusak berat: 6.236 unit
- Rumah rusak sedang: 16.325 unit
- Rumah rusak ringan: 20.280 unit
Data ini disampaikan Ismail saat mengikuti Rapat Koordinasi Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana Sumatra di Gedung DPR, Jakarta. Angka-angka tersebut menunjukkan betapa besar tantangan pemulihan yang harus dihadapi pemerintah daerah dan pusat.
Cerminan Persoalan Klasik Pascabencana
Momen Tito mengajari Bupati Aceh Utara secara langsung di lapangan menjadi potret nyata persoalan klasik penanganan pascabencana di Indonesia. Bukan semata soal anggaran, tetapi soal tata kelola data dan koordinasi antarlembaga.
Di hadapan warga, Tito menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan administratif dari daerah. Sebaliknya, pemerintah daerah juga membutuhkan dorongan dan supervisi agar proses berjalan cepat dan tepat sasaran.
Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka statistik bencana, terdapat manusia dengan kebutuhan mendesak yang tidak bisa menunggu terlalu lama.
Harapan Warga dan Tantangan ke Depan
Bagi warga Aceh Utara, arahan langsung dari Mendagri memberi harapan baru agar bantuan segera terealisasi. Mereka berharap pendataan segera rampung sehingga proses pencairan dana tidak lagi berlarut-larut.
Sementara bagi pemerintah daerah, momen ini menjadi evaluasi penting untuk memperbaiki sistem pendataan dan respons kebencanaan. Dengan data yang akurat dan koordinasi yang solid, bantuan diharapkan bisa lebih cepat sampai ke tangan warga yang benar-benar membutuhkan.
Kunjungan Mendagri Tito Karnavian ke Aceh Utara bukan sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi simbol penting bahwa negara hadir—dan sekaligus mengingatkan bahwa kecepatan bantuan sangat bergantung pada kesiapan administrasi di tingkat daerah.
Baca Juga : West Java Traincation Inovasi Pariwisata Masa Depan Jawa Barat
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : zonamusiktop

