Potret Pemulihan Pascabanjir Aceh: Membersihkan Sisa Bencana
Jejak Banjir Bandang di Tanah Rencong
Banjir bandang yang melanda wilayah Aceh meninggalkan jejak kerusakan yang luas. Lumpur pekat, batu besar, hingga gelondongan kayu menumpuk di permukiman, aliran sungai, dan fasilitas umum. Di banyak tempat, sisa-sisa bencana itu masih menjadi pemandangan sehari-hari, mengingatkan warga pada dahsyatnya arus air yang datang tanpa ampun.
Sedikitnya 18 kabupaten dan kota terdampak banjir hidrometeorologi. Rumah warga, sekolah, jalan, jembatan, rumah ibadah, hingga fasilitas kesehatan mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam. Pascabencana, tantangan terbesar bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi membersihkan material berat yang menutup akses kehidupan sehari-hari.
Ekskavator Bekerja di Aliran Sungai
Sebagai bagian dari percepatan pemulihan, pemerintah mengerahkan alat berat untuk membersihkan aliran sungai yang tersumbat material banjir. Di Desa Blang Cut, ekskavator terlihat mengangkat kayu gelondongan dan lumpur dari badan sungai.
Pembersihan sungai menjadi langkah krusial untuk mencegah banjir susulan. Material yang menumpuk berpotensi menghambat aliran air dan meningkatkan risiko luapan saat hujan kembali turun. Suara mesin ekskavator yang bekerja siang dan malam menjadi penanda dimulainya fase pemulihan.
Masjid Ikut Terdampak, Lumpur Disingkirkan
Tidak hanya permukiman, rumah ibadah juga terdampak cukup parah. Di wilayah Lampahan Timur, halaman dan bangunan masjid tertimbun lumpur dan batu.
Alat berat digunakan untuk memindahkan material yang menutup akses masjid. Bagi warga, pembersihan masjid memiliki makna simbolis yang kuat—bukan sekadar memulihkan bangunan, tetapi juga memulihkan ruang spiritual dan kebersamaan komunitas.
Berdasarkan data posko tanggap darurat bencana hidrometeorologi, ratusan unit rumah ibadah di Aceh mengalami kerusakan akibat banjir bandang. Angka ini mencerminkan luasnya dampak bencana yang tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Sekolah Jadi Prioritas Pemulihan
Di sektor pendidikan, upaya pembersihan dilakukan secara gotong royong. Prajurit Tentara Nasional Indonesia bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan masyarakat setempat membersihkan fasilitas pendidikan yang terdampak di Aceh Utara dan Aceh Tengah.
Salah satu potret pemulihan terlihat di SD Negeri 9 Kebayakan. Lumpur di ruang kelas diangkat secara manual, sementara air disemprotkan untuk membersihkan lantai dan dinding. Aktivitas ini dilakukan demi mengejar target dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar.
Gotong Royong di Tengah Keterbatasan
Pemandangan prajurit TNI dan warga yang bahu-membahu mengangkat lumpur menjadi simbol solidaritas pascabanjir. Tanpa banyak kata, kerja bersama itu menunjukkan bahwa pemulihan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
Di tengah keterbatasan alat dan tenaga, gotong royong menjadi modal utama. Setiap ember lumpur yang diangkat membawa harapan agar kehidupan bisa segera kembali normal, terutama bagi anak-anak yang menantikan kembalinya aktivitas sekolah.
Fasilitas Umum Dibersihkan Bertahap
Selain sekolah dan rumah ibadah, fasilitas umum lain seperti jalan desa dan jembatan kecil juga menjadi sasaran pembersihan. Material batu dan kayu yang menutup akses jalan harus disingkirkan agar mobilitas warga kembali lancar.
Pembersihan dilakukan secara bertahap dengan prioritas pada titik-titik vital. Di beberapa lokasi, warga masih harus memutar jauh karena jalan utama belum sepenuhnya bisa dilalui. Meski demikian, progres pembersihan menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang nyata.
Data Kerusakan Jadi Dasar Penanganan
Pendataan kerusakan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Informasi dari posko tanggap darurat digunakan untuk menentukan prioritas penanganan, mulai dari infrastruktur hingga fasilitas sosial.
Data tersebut juga menjadi dasar perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi jangka menengah. Tanpa pendataan yang akurat, upaya pemulihan berisiko tidak tepat sasaran dan memperpanjang penderitaan masyarakat terdampak.
Harapan di Balik Lumpur
Di balik tumpukan lumpur dan kayu, ada harapan yang perlahan tumbuh. Setiap alat berat yang bekerja, setiap kelas yang dibersihkan, dan setiap masjid yang kembali bisa digunakan menandai langkah kecil menuju pemulihan.
Bagi warga Aceh, bencana bukan hal baru. Namun, setiap kali bencana datang, semangat bangkit selalu menyertainya. Potret pembersihan pascabanjir ini bukan sekadar dokumentasi kerusakan, melainkan cerita tentang daya tahan, solidaritas, dan harapan akan hari esok yang lebih baik.
Baca Juga : Tragedi Kebakaran Bar di Swiss, 40 Orang Tewas
Cek Juga Artikel Dari Platform : cctvjalanan

