Rotasi Bumi Melambat Sejak Purba, Ini Dampaknya bagi Oksigen
Sejak jutaan hingga miliaran tahun lalu, rotasi Bumi tidak pernah benar-benar konstan. Planet yang kita huni ini perlahan tapi pasti mengalami perlambatan rotasi. Pada masa awal sejarah Bumi, satu hari tidak berlangsung selama 24 jam seperti sekarang, melainkan hanya sekitar 18 jam atau bahkan lebih singkat lagi. Fenomena alam yang berlangsung sangat lambat ini ternyata menyimpan dampak besar, bukan hanya bagi dinamika planet, tetapi juga bagi kehidupan dan kadar oksigen di atmosfer.
Dalam skala kehidupan manusia, perubahan ini nyaris tak terasa. Namun jika ditarik ke rentang waktu geologis, perlambatan rotasi Bumi menjadi salah satu faktor kunci yang membentuk kondisi layak huni seperti yang kita kenal hari ini.
Mengapa Rotasi Bumi Terus Melambat?
Perlambatan rotasi Bumi terutama disebabkan oleh tarikan gravitasi Bulan. Bulan menciptakan gaya pasang surut di lautan Bumi. Ketika air laut tertarik dan membentuk tonjolan pasang, gesekan antara air laut dan dasar samudra menghasilkan efek seperti rem alami yang memperlambat rotasi Bumi.
Sebagai konsekuensinya, energi rotasi Bumi berkurang sedikit demi sedikit dan ditransfer ke Bulan, yang membuat Bulan secara perlahan menjauh dari Bumi. Proses ini masih terus berlangsung hingga saat ini, meskipun lajunya sangat kecil—hanya sekitar 1,7 milidetik per abad untuk penambahan panjang satu hari.
Namun dalam rentang jutaan hingga miliaran tahun, akumulasi efek ini sangat signifikan.
Hari yang Semakin Panjang dan Perubahan Lingkungan
Pada masa Bumi purba, hari yang lebih pendek berarti siklus terang dan gelap terjadi lebih cepat. Kondisi ini memengaruhi berbagai proses alam, mulai dari dinamika atmosfer, suhu permukaan, hingga aktivitas biologis.
Seiring melambatnya rotasi Bumi, durasi siang hari bertambah. Hal inilah yang kemudian menjadi faktor penting dalam peningkatan kadar oksigen atmosfer, sebuah temuan yang relatif baru dalam dunia sains.
Kaitan Rotasi Bumi dengan Oksigen Atmosfer
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perlambatan rotasi Bumi tidak hanya berdampak pada mekanika planet, tetapi juga mengubah ritme biologis kehidupan awal. Sekitar 2,4 miliar tahun lalu, terjadi peristiwa besar yang dikenal sebagai Great Oxidation Event, ketika kadar oksigen di atmosfer Bumi meningkat secara signifikan.
Sumber utama oksigen ini berasal dari mikroorganisme purba bernama sianobakteri, yang menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Namun, kemampuan mereka untuk memproduksi oksigen ternyata sangat dipengaruhi oleh panjang hari.
Hari Pendek Membatasi Produksi Oksigen
Pada masa ketika satu hari hanya berlangsung sekitar 18 jam atau kurang, waktu yang tersedia bagi sianobakteri untuk berfotosintesis relatif terbatas. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa sianobakteri tidak langsung menghasilkan oksigen begitu terkena cahaya matahari.
Mereka membutuhkan waktu beberapa jam untuk “aktif” sepenuhnya. Jika hari terlalu singkat, jendela waktu efektif untuk menghasilkan oksigen menjadi sempit, sehingga hanya sedikit oksigen yang dilepaskan ke atmosfer.
Bukti dari Danau Huron
Salah satu penelitian penting dilakukan di Middle Island Sinkhole, Danau Huron, Amerika Serikat. Lokasi ini dianggap sebagai analog lingkungan laut purba karena memiliki kondisi kimia yang mirip dengan lautan Bumi miliaran tahun lalu.
Penelitian di sana menemukan adanya kompetisi harian antara mikroba pemakan belerang dan sianobakteri penghasil oksigen. Pada pagi hari, mikroba pemakan belerang mendominasi. Namun ketika matahari semakin tinggi dan cahaya semakin kuat, sianobakteri mulai mengambil alih.
Yang menarik, sianobakteri baru benar-benar produktif setelah beberapa jam terkena cahaya. Artinya, hari yang lebih panjang memberi keuntungan besar bagi produksi oksigen.
Satu Hari Panjang Tidak Sama dengan Dua Hari Pendek
Temuan lain yang tak kalah penting adalah kesimpulan bahwa satu hari panjang lebih efektif menghasilkan oksigen dibandingkan dua hari pendek dengan total durasi cahaya yang sama.
Hal ini berkaitan dengan proses difusi molekuler. Oksigen yang dihasilkan membutuhkan waktu untuk dilepaskan dan menyebar ke lingkungan sekitarnya. Cahaya matahari yang berkelanjutan memungkinkan akumulasi oksigen yang lebih besar dibandingkan siklus terang-gelap yang terputus-putus.
Dengan kata lain, melambatnya rotasi Bumi memberikan kondisi optimal bagi kehidupan awal untuk “mengisi” atmosfer dengan oksigen.
Dampak Jangka Panjang bagi Evolusi Kehidupan
Peningkatan kadar oksigen di atmosfer membawa konsekuensi besar bagi evolusi kehidupan. Oksigen memungkinkan metabolisme yang lebih efisien dan mendukung perkembangan organisme multiseluler yang lebih kompleks.
Fenomena perlambatan rotasi Bumi juga dikaitkan dengan lonjakan oksigen kedua pada periode Ediacaran, sekitar 550–800 juta tahun lalu. Pada masa ini, kehidupan multiseluler mulai berkembang pesat, menjadi fondasi bagi keanekaragaman hayati modern, termasuk hewan dan akhirnya manusia.
Tanpa hari yang lebih panjang akibat rotasi Bumi yang melambat, lonjakan oksigen ini mungkin tidak akan terjadi dalam skala yang cukup besar untuk mendukung kehidupan kompleks.
Apa yang Terjadi di Masa Depan?
Perlambatan rotasi Bumi masih terus berlangsung. Dalam jutaan tahun ke depan, satu hari di Bumi akan menjadi lebih panjang dari 24 jam. Meski perubahan ini tidak akan berdampak langsung pada kehidupan manusia dalam waktu dekat, fenomena ini menunjukkan betapa dinamika planet dan kehidupan saling terhubung secara mendalam.
Rotasi Bumi, gravitasi Bulan, mikroorganisme purba, dan evolusi kehidupan membentuk satu rangkaian sebab-akibat yang panjang dan menakjubkan.
Kesimpulan
Rotasi Bumi yang terus melambat sejak jutaan hingga miliaran tahun lalu bukan sekadar fenomena astronomi. Proses ini berperan penting dalam meningkatkan kadar oksigen atmosfer, membuka jalan bagi evolusi kehidupan kompleks di planet ini.
Hari yang lebih panjang memberi waktu bagi sianobakteri untuk berfotosintesis secara optimal, menghasilkan oksigen dalam jumlah besar, dan mengubah wajah Bumi selamanya. Dari mikroorganisme purba hingga manusia modern, semua kehidupan di Bumi secara tidak langsung merupakan hasil dari ritme kosmik yang bergerak sangat lambat, namun penuh makna.
Baca Juga : Mendagri Ajari Bupati Aceh Utara Soal Data Bantuan Banjir
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : suarairama

