Harga Bitcoin (BTC) Turun Tajam Usai Trump Naikkan Tarif

medianews – Pasar kripto global kembali diguncang oleh volatilitas tinggi setelah harga aset digital utama, Bitcoin, mengalami penurunan tajam dalam kurun waktu yang singkat. Sentimen negatif ini muncul menyusul pengumuman kebijakan ekonomi terbaru dari Amerika Serikat, di mana Presiden Donald Trump secara resmi menaikkan tarif perdagangan terhadap sejumlah mitra dagang utama. Langkah proteksionisme ini memicu kekhawatiran para investor global akan terjadinya perang dagang baru yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dunia serta memperkuat nilai tukar dolar Amerika, yang secara historis seringkali berbanding terbalik dengan harga aset berisiko seperti Bitcoin.
Gejolak di pasar aset digital ini memberikan dampak yang cukup luas, dengan beberapa poin utama yang perlu diperhatikan oleh para pelaku pasar:
- Kepanikan Investor di Pasar Spot: Penurunan harga yang menembus level dukungan psikologis memicu aksi jual massal atau panic selling, terutama dari kalangan investor ritel yang khawatir akan terjadinya koreksi lebih dalam akibat ketidakpastian kebijakan fiskal Amerika Serikat.
- Penguatan Indeks Dolar (DXY): Kebijakan tarif yang ketat cenderung membuat mata uang dolar semakin perkasa di pasar valuta asing. Hal ini mendorong para manajer investasi untuk memindahkan aset mereka dari instrumen berisiko tinggi ke aset yang dianggap lebih aman atau safe haven sementara waktu.
- Likuidasi Massal di Pasar Berjangka: Penurunan harga Bitcoin yang drastis mengakibatkan terjadinya likuidasi posisi buy senilai jutaan dolar di berbagai bursa kripto global, yang semakin mempercepat laju penurunan harga dalam hitungan jam.
- Dampak Terhadap Altcoin: Sebagaimana biasanya, penurunan tajam pada Bitcoin diikuti oleh jatuhnya harga sebagian besar aset kripto alternatif lainnya atau altcoin, yang bahkan mengalami persentase penurunan yang lebih dalam dibandingkan aset utamanya.
Analis pasar berpendapat bahwa kebijakan tarif Trump ini menciptakan spekulasi mengenai arah inflasi di masa mendatang. Jika tarif yang lebih tinggi menyebabkan kenaikan harga barang di tingkat konsumen, bank sentral mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sebuah skenario yang umumnya dipandang buruk bagi pasar kripto. Namun, sebagian pendukung aset digital masih optimis bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi makro, Bitcoin nantinya akan kembali dipandang sebagai aset lindung nilai yang independen dari kebijakan pemerintah tertentu.
Bagi para pemegang aset jangka panjang, situasi ini seringkali dianggap sebagai fase konsolidasi yang wajar dalam siklus pasar yang sangat dinamis. Namun, bagi para pedagang harian, fluktuasi ini menuntut manajemen risiko yang sangat ketat guna menghindari kerugian yang lebih besar. Perkembangan ekonomi global di bawah kepemimpinan Trump akan terus menjadi faktor kunci yang dipantau ketat oleh komunitas kripto dunia. Hingga saat ini, pasar masih menunggu sinyal stabilisasi sebelum memutuskan untuk kembali melakukan akumulasi aset di tengah ketegangan perdagangan internasional yang semakin meningkat.
